Empat penunggang, satu derap besi. Black Horses membawa kembali rock organik era 70an — gahar, jujur, tanpa sequencer.
Terbentuk di Jakarta pada 2015, Black Horses lahir dari kecintaan sederhana pada musik yang dimainkan dengan instrumen asli dan aksi panggung yang membara. Nama mereka diambil dari kisah Empat Penunggang Kuda Kiamat — masing-masing personel merepresentasikan satu watak dari legenda itu, disatukan oleh satu visi: menghidupkan kembali semangat rock 70an, ketika musik dimainkan dengan gairah dan kejujuran, bukan sekadar sampel dan quantize.
Dari single debut "Martyr" yang direkam langsung di garasi, hingga album ketiga "Jahanam" yang seluruhnya berbahasa Indonesia, Black Horses konsisten membawa riff bluesy, bassline yang punchy, dan gebukan drum yang menggema — terinspirasi dari nama-nama besar seperti Led Zeppelin, Black Sabbath, dan Deep Purple, namun tetap mencari suara mereka sendiri.
Identitas visual Black Horses berpijak pada dua sosok: kuda hitam dan gladiator Romawi berlapis baja penuh. Kuda melambangkan derap yang tak berhenti — energi liar rock n' roll yang berlari tanpa kompromi. Gladiator berlapis besi melambangkan disiplin dan ketahanan: setiap personel turun ke "arena" panggung sama seriusnya seperti prajurit turun ke pertempuran.
Dua simbol itu melebur jadi satu maskot: setengah kuda, setengah pendekar besi — sangar di atas panggung, namun dibangun dari kejujuran bermusik yang sama seperti generasi rock 70an dulu.
Suara depan legiun — teriakan yang memimpin arena.
Riff bluesy dan slide gitar, tulang punggung sound 70an.
Fondasi punchy yang menahan derap tetap di jalur.
Gebukan yang menggema, derap kuda dalam bentuk ketukan.
Kartu acara di bawah ini contoh format — ganti tanggal, venue, dan status tiket sesuai jadwal manggung Black Horses yang sebenarnya.
Setiap gerbang membawa satu kuda hitam berlapis baja — melambangkan rilisan dan babak perjalanan Black Horses.
Mengulas proses di balik "Tirani Tua", termasuk keputusan besar band untuk pertama kalinya menulis lirik penuh dalam Bahasa Indonesia setelah bertahun-tahun konsisten dengan nuansa rock 70an.
Baca selengkapnyaMembahas "Jahanam", album ketiga Black Horses yang diproduseri John Paul Patton dari Kelompok Penerbang Roket, menampilkan 9 lagu dengan energi classic rock yang tetap terasa mentah dan lugas.
Baca selengkapnyaUlasan independen yang menyoroti artwork "Tirani Tua" dan bagaimana lirik berbahasa Indonesia membuat trek-trek di album ini terasa lebih dekat untuk dinyanyikan bersama penggemar saat manggung.
Baca selengkapnyaMeliput perilisan album debut Black Horses, dibuka oleh "Death Call Declined" dan menampilkan cerita di balik lirik "Burn Me On Air" yang menjadi asal-usul judul album.
Baca selengkapnyaMenceritakan proses kelahiran single debut "Martyr", dari progresi kord bassist Lucky hingga slide gitar Kevin, terinspirasi Led Zeppelin, Black Sabbath, dan Deep Purple.
Baca selengkapnyaMemperkenalkan Black Horses sebagai unit rock 70an asal Jakarta yang enggan berkompromi soal identitas, direkam langsung di garasi untuk sound yang lebih organik.
Baca selengkapnyaKusir — sebutan bagi penggemar Black Horses — adalah bagian dari legiun ini. Setiap sing-along dan teriakan balasan di panggung adalah bagian dari derap yang sama.